OKI  

Relawan Pendidikan Resmi Dilepas, OKI Fokus Tekan Angka ATS (Anak Tidak Sekolah)

Dinas Pendidikan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) resmi melepas Relawan Pendidikan untuk mendukung program penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) Tahun 2026. Program ini menjadi langkah serius Pemerintah Kabupaten OKI dalam menekan tingginya angka ATS yang mencapai puluhan ribu anak.

 

Kegiatan koordinasi, pembekalan, dan pelepasan Relawan dilaksanakan di Aula Dinas Pendidikan OKI, Rabu (20/05/2026),

 

Sebagai tindak lanjut Surat Direktur Pendidikan Nonformal dan Pendidikan Informal Nomor 0610/B/D5/DM.00.02/2026 tentang Pelaksanaan Program Relawan Pendidikan Tahun 2026.

 

Kepala Dinas Pendidikan OKI, Muhammad Refly, S.Sos., M.M., mengatakan Kabupaten OKI saat ini menjadi salah satu daerah dengan angka ATS tertinggi berdasarkan data yang diterima pihaknya.

 

“Data ATS di Kabupaten OKI per Mei 2026 mencapai 22.082 anak, terdiri dari ATS BPB sebanyak 22.082, ATS DO 4.671, dan ATS LTM 6.438. Ini menjadi fokus utama kami ke depan untuk dituntaskan,” tegas Refly dalam sambutannya.

 

Ia berharap kehadiran relawan pendidikan mampu menjadi energi baru dalam mendukung upaya pemerintah mengembalikan anak-anak ke dunia pendidikan.

 

“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh relawan pendidikan yang akan bertugas melakukan pendataan ATS di Kecamatan Kayuagung, Pedamaran, dan SP Padang. Jalankan tugas ini dengan penuh tanggung jawab karena bukan sekadar program, tetapi juga bernilai ibadah,” ujarnya.

 

Refly juga menegaskan pentingnya semangat dan dedikasi para relawan dalam menjalankan tugas di lapangan.

 

“Bersama Relawan Membangun Pendidikan Mewujudkan Generasi Emas OKI,” tutupnya.

 

Sementara itu, Kabid PAUD dan Dikmas Disdik OKI, Desi Puspita, S.E., M.M., menyampaikan bahwa Kabupaten OKI menjadi satu-satunya daerah di Sumatera Selatan yang mendapatkan program Relawan Pendidikan untuk penanggulangan ATS tahun ini.

 

“Ini menjadi motivasi besar bagi dunia pendidikan di OKI.

 

Namun keberhasilan program ini membutuhkan kerja sama semua pihak, khususnya para relawan pendidikan,” kata Desi.

Menurutnya, tingginya angka ATS di OKI membutuhkan pendataan yang benar-benar akurat karena kondisi di lapangan sering kali berbeda dengan data administrasi.

 

“Kami tidak hanya membutuhkan data, tetapi juga kebenaran data” tambahnya.

 

Kegiatan tersebut turut dihadiri tim fasilitator dari Kementerian Pendidikan Nonformal dan Pendidikan Informal (PNFI), perwakilan Kementerian Desa melalui Tenaga Ahli P3MD dan pendamping Desa, Disdukcapil OKI, OPD terkait, jajaran Dinas Pendidikan, serta seluruh relawan pendidikan.

 

Tim fasilitator PNFI, Dr. Nuril Furkan, M.Pd., M.H., M.I.Kom., menegaskan bahwa persoalan anak tidak sekolah merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kolaborasi seluruh pihak.

 

“Permasalahan ATS ini adalah tanggung jawab kita bersama. Karena itu diperlukan kerja sama yang baik dan perhatian khusus dari semua kalangan,” ungkap Nuril.

 

Dalam pembekalan tersebut, para relawan mendapatkan materi mengenai pedoman pelaksanaan program, strategi reintegrasi anak tidak sekolah ke jalur pendidikan, verifikasi data, advokasi, hingga penyusunan peta kebutuhan belajar anak.

 

Selain itu, dilakukan pula penyusunan program tindak lanjut yang nantinya akan menjadi langkah konkret Dinas Pendidikan OKI dalam mengurangi angka ATS di wilayah tersebut.

 

Sebagai simbol dimulainya tugas relawan, Kepala Dinas Pendidikan OKI bersama tim fasilitator pusat melakukan pelepasan secara simbolis kepada dua perwakilan relawan, terdiri dari satu laki-laki dan satu perempuan.

 

Melalui program ini, Pemerintah Kabupaten OKI berharap para relawan mampu menjadi ujung tombak dalam mendata, mendampingi, serta membantu mengembalikan anak-anak yang putus sekolah agar kembali memperoleh hak pendidikan yang layak.(DONI PRATAMA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *