OGAN KOMERING ILIR – Senja mulai berganti gelap di Desa Pematang Sukatani, Kecamatan Mesuji Makmur. Namun, gemuruh mesin proyek TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-128 tidak meredupkan cahaya lain yang justru lebih terang: cahaya kebersamaan. Di malam itu, puluhan prajurit Satuan Tugas Kodim 0402/OKI duduk bersila, berbaur dengan kyai, tokoh adat, dan warga petani. Mereka tidak mengangkat cangkul atau membawa cat, melainkan menengadahkan tangan dalam doa bersama (23/4/2026).
Inilah sisi lain dari TMMD yang jarang menjadi sorutan kamera: pembangunan mental dan sosial.
Kegiatan yang berlangsung di halaman rumah salah satu tokoh masyarakat itu terasa berbeda dari biasanya. Suara bacaan doa mengalun pelan, kadang terputus isak haru seorang nenek yang anaknya merantau dan jarang pulang. Suasana hening, hanya terdengar gumam ‘Aamiin’ yang menggema bersahutan antara seragam loreng dan kain sarung warga.
Bagi Letda Arh Daniel Surya, Komandan Satgas TMMD Kodim 0402/OKI, momen ini adalah inti dari filosofi “Manunggal”. “TMMD tidak pernah hanya soal jembatan, jalan, atau bedah rumah. Pembangunan yang sejati lahir ketika tentara dan rakyat memiliki denyut harapan yang sama. Malam ini, kami menyatukan hati dalam doa—memohon keselamatan untuk para pekerja, kelancaran air bagi sawah warga, dan keberkahan untuk setiap batu bata yang kami pasang,” ujarnya dengan suara lirih namun mantap.
Kegiatan doa bersama ini telah direncanakan sejak awal, bukan sebagai seremonial, melainkan sebagai bentuk terapi kolektif. Pematang Sukatani adalah desa yang sebelumnya tertinggal dalam akses infrastruktur dan sempat dilanda konflik sosial kecil antarwarga beberapa tahun lalu. Kehadiran Satgas TMMD tidak hanya membawa alat berat, tetapi juga merangkul pemuka agama setempat untuk menginisiasi ritual rekonsiliasi spiritual.
Salah satu warga, Sumarno (62), petani yang lahan sawahnya kini mulai mudah diakses berkat pengerasan jalan TMMD, tak kuasa menahan haru. “Saya sudah puluhan tahun hidup di sini. Baru kali ini saya melihat tentara bukan hanya datang membangun, tetapi juga mau duduk, mengeluh, dan berdoa bersama kami seperti keluarga sendiri. Mereka tidak merasa lebih tinggi. Hati kami menyatu. Ini yang kami tunggu-tunggu,” katanya, matanya berkaca-kaca.
Suasana semakin hangat ketika usai doa, Dan Satgas bersama Imam Desa saling memimpin doa secara bergantian; satu dari perspektif kebangsaan, satu dari dimensi ketuhanan. Tidak ada panggung, tidak ada kursi khusus VIP. Semua beralas tikar, sama rata.
Kegiatan ini, meskipun sederhana, menjadi bukti temuan menarik: bahwa pembangunan yang paling cepat itu bukanlah beton, melainkan kepercayaan. Di tengah arus modernisasi yang kerap mengikis gotong royong, TMMD ke-128 di Ogan Komering Ilir telah menemukan formula manunggal yang utuh—membangun dari jalan desa hingga jalan menuju hati.
Hingga dini hari, gema takbir dan doa masih terdengar sayup. Besok pagi, para prajurit akan kembali ke proyek fisik, dan warga akan ke ladang. Namun malam itu, mereka telah membangun sesuatu yang tidak bisa dirobohkan waktu: persaudaraan.(DONI PRATAMA)




