Bedah Buku Babad Alas, Refleksi Kepemimpinan 10 Tahun di Kota Bogor Digelar di UNJA

Jambi – Kegiatan bedah buku berjudul Babad Alas yang mengangkat tema “Ruang refleksi dari cerita kepemimpinan selama 10 tahun di Kota Bogor” digelar di Kampus Mendalo Universitas Jambi, tepatnya di Ruang Auditorium UNIFAC Lantai 1, Rabu (15/4/2026) pukul 09.30 WIB.

Kegiatan ini menghadirkan langsung penulis buku, Bima Arya Sugiarto, yang saat ini menjabat sebagai Wakil Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia.

Dalam sambutannya, Rektor Universitas Jambi menyampaikan apresiasi serta ucapan selamat datang kepada seluruh tamu undangan, mulai dari perwakilan Kementerian Dalam Negeri, jajaran Pemerintah Provinsi dan Kota Jambi, hingga sivitas akademika Universitas Jambi.

Rektor juga menyapa Ketua Senat Universitas Jambi, Prof. Samsurrijal Tan SE, beserta jajaran pimpinan universitas lainnya, di antaranya Wakil Rektor I Bidang Akademik Prof. Dr. Hafrida, S.H., M.H Dekan Fakultas Hukum Dr. Hartati, para ketua lembaga, wakil dekan, dosen, serta panitia penyelenggara.

Ucapan terima kasih secara khusus disampaikan kepada Rio Yusri Maulana, S.IP., M.I.Pol., Ph.D. beserta tim yang telah menggagas terselenggaranya kegiatan tersebut. Rektor turut mengapresiasi kehadiran sejumlah tokoh penting, di antaranya Al Haris selaku Gubernur Jambi, Wali Kota Jambi Dr. dr. H. Maulana, M.K.M., serta Wakil Wali Kota Jambi Diza Hazra Aljosha, S.E.

Dalam suasana hangat, Rektor menyampaikan pantun sebagai bentuk penghormatan kepada narasumber:

Burung ketilang terbang di udara

Mencari makan bersiul ceria

Selamat datang Pak Bima Arya

Kami sambut dengan sukacita

Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini telah direncanakan sejak lama, namun baru dapat terlaksana mengingat padatnya agenda narasumber. Meski demikian, kehadiran Bima Arya Sugiarto dinilai menjadi momentum penting bagi mahasiswa untuk memperoleh wawasan langsung mengenai kepemimpinan.

Lebih lanjut, Rektor menuturkan bahwa buku Babad Alas memuat perjalanan kepemimpinan Bima Arya selama menjabat sebagai Wali Kota Bogor. Istilah “Babad Alas” dimaknai sebagai simbol membuka “rimba belantara”, yang menggambarkan kompleksitas tantangan dalam memimpin sebuah daerah.

Menurutnya, buku tersebut tidak hanya mengisahkan keberhasilan, tetapi juga memotret konflik, dinamika sosial, serta berbagai tantangan yang dihadapi dalam proses kepemimpinan. Hal ini diharapkan dapat menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi mahasiswa.

“Kami berharap mahasiswa dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk berdiskusi, bertanya, dan menggali pengalaman langsung dari narasumber,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Jambi, Diza Hazra Aljosha, S.E., yang turut hadir sekaligus berperan sebagai moderator, membuka sesi diskusi dengan menyapa para tamu undangan dan peserta yang hadir. Ia menyampaikan apresiasi atas kehadiran Wakil Menteri Dalam Negeri serta para pemangku kepentingan yang turut memeriahkan kegiatan tersebut.

Dalam pengantarnya, Diza menilai Bima Arya Sugiarto sebagai sosok pemimpin muda yang menghadirkan berbagai terobosan inovatif selama memimpin Kota Bogor. Ia mencontohkan sejumlah kebijakan kreatif yang dinilai progresif, seperti penataan ruang kota yang lebih estetis serta dorongan penggunaan produk lokal oleh aparatur sipil negara.

“Beliau tidak hanya dikenal sebagai pemimpin muda, tetapi juga memiliki gagasan yang inovatif dan berdampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, dalam paparannya, Bima Arya Sugiarto menyampaikan kisah perjalanan hidup dan karier politiknya yang penuh dinamika. Ia mengawali dengan menyapa Gubernur Jambi, Wali Kota Jambi, Rektor Universitas Jambi, serta seluruh sivitas akademika yang hadir.

Bima Arya mengungkapkan bahwa dirinya tidak pernah membayangkan akan menjadi kepala daerah. Ia memulai karier sebagai pengamat dan aktif dalam berbagai forum diskusi publik. Namun, pada suatu titik, ia merasa perlu mengambil peran lebih nyata dalam membangun daerah.

“Hidup hanya sekali dan harus memiliki arti. Dari situlah saya memutuskan untuk terjun langsung dan berjuang bagi kota yang saya cintai, yaitu Bogor,” ungkapnya.

Ia juga menceritakan tantangan berat saat pertama kali maju dalam kontestasi pemilihan Wali Kota Bogor. Dengan keterbatasan sumber daya dan dukungan finansial, ia harus menghadapi kandidat petahana yang kuat.

Bahkan, saat masa kampanye terbuka dimulai, ia mengaku hanya memiliki dana yang sangat terbatas. Namun, berkat dukungan sahabat dan relawan, perjuangannya membuahkan hasil.

“Kami akhirnya menang dengan selisih yang sangat tipis, hanya 1.744 suara. Itu menjadi pelajaran bahwa keyakinan dan kerja keras dapat mengalahkan keterbatasan,” ujarnya.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program “Diktisaintek Berdampak” yang bertujuan menghadirkan ruang dialog antara akademisi, pemerintah, dan mahasiswa dalam memperkuat wawasan kepemimpinan serta kebijakan publik. ( Eros )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *