Hujan yang mengguyur Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), sumatera selatan ( Sumsel),dalam beberapa hari terakhir menjadi perbincangan hangat di media sosial. Fenomena ini membawa dua sisi yang kontras. Di satu sisi, curah hujan yang tinggi menjadi berkah bagi sektor pertanian dan perkebunan. Namun, di sisi lain, hujan berlebihan berpotensi memicu banjir, jalanan berlumpur, serta terganggunya aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat.
Sebagai wilayah dengan dominasi lahan pertanian dan perkebunan, Air Sugihan seharusnya mendapat manfaat besar dari pasokan air yang cukup. Namun, kenyataannya, infrastruktur yang kurang memadai membuat hujan menjadi ancaman. Sistem drainase yang buruk, jalan yang mudah rusak akibat genangan air, serta tata kelola lahan yang tidak terencana memperburuk dampak dari intensitas hujan yang tinggi.
Persoalan ini seharusnya menjadi perhatian serius bagi Pemerintah Kabupaten OKI. Tanpa mitigasi yang baik, hujan yang seharusnya menjadi berkah justru berubah menjadi bencana tahunan. Perencanaan tata ruang yang lebih matang, perbaikan drainase, serta pembangunan infrastruktur yang tahan terhadap perubahan cuaca menjadi kebutuhan mendesak.
Selain pemerintah, perusahaan yang beroperasi di Air Sugihan, terutama di sektor perkebunan dan kehutanan, juga memiliki tanggung jawab besar. Mereka harus memastikan bahwa aktivitas mereka tidak memperburuk kondisi lingkungan. Pembukaan lahan yang tidak memperhatikan ekosistem serta pengelolaan air yang tidak berkelanjutan dapat mempercepat degradasi lingkungan dan meningkatkan risiko banjir.
Rio Hakan Sukur, Selaku presiden mahasiswa yang juga kaderi PMII OKI Komisariat Universitas Islam OKI, menegaskan bahwa buruknya infrastruktur dan pengelolaan lahan menjadi faktor utama yang memperparah dampak hujan. Ia mendesak pemerintah dan perusahaan untuk lebih transparan serta bertanggung jawab dalam pengelolaan lingkungan. “Jangan hanya mengejar keuntungan, tetapi juga berkontribusi nyata dalam mitigasi bencana,” tegasnya.
Senada dengan itu, Salim Kosim dari Pusat Riset Pelayanan Masyarakat (Prisma) Sumatra Selatan menyoroti dampak lingkungan akibat aktivitas perusahaan besar di Air Sugihan. Menurutnya, pembukaan lahan secara masif tanpa sistem pengelolaan air yang baik telah mempercepat kerusakan ekosistem. Prisma mendesak pemerintah untuk melakukan audit lingkungan terhadap perusahaan yang beroperasi di wilayah tersebut dan mendorong kebijakan yang lebih berpihak kepada masyarakat lokal.
Masyarakat juga perlu meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem. Sosialisasi dari pihak berwenang mengenai langkah-langkah mitigasi perlu ditingkatkan agar warga lebih siap menghadapi kemungkinan bencana. Selain itu, kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, organisasi masyarakat, dan petani sangat dibutuhkan untuk memastikan bahwa hujan benar-benar menjadi berkah, bukan ancaman.
Hujan bukan sekadar fenomena alam, melainkan ujian bagi kesiapan kita dalam mengelola lingkungan dan infrastruktur. Jika tidak diantisipasi dengan baik, berkah hujan bisa berubah menjadi bencana yang terus berulang.(***)