OGAN KOMERING ILIR (13/8) – Wakil Bupati Ogan Komering Ilir (OKI), Supriyanto, S.H., mengapresiasi upaya PT Kelantan Sakti (PT KS) dan PT Persada Sawit Makmur (PT PSM) dalam memperkuat pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui Program Desa Bebas Api (DBA). Menurutnya, program yang melibatkan perusahaan, pemerintah desa dan masyarakat tersebut merupakan langkah penting dalam membangun sistem pencegahan karhutla berbasis masyarakat.
“Pencegahan tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah, aparat penegak hukum maupun petugas pemadam kebakaran. Dibutuhkan keterlibatan perusahaan, pemerintah desa dan yang paling penting adalah masyarakat sebagai garda terdepan di wilayah masing-masing,” ujar Supriyanto saat membuka penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) Program Desa Bebas Api di Gedung Bende Seguguk II Kabupaten Ogan Komering Ilir, 11 Agustus 2026.
Ia menilai Program Desa Bebas Api memiliki arti penting karena tidak hanya berorientasi pada pemadaman ketika kebakaran terjadi, tetapi juga membangun kesadaran, kewaspadaan dan budaya pencegahan di tengah masyarakat. Karena itu, ia berharap desa-desa yang bergabung dalam program binaan PT KS dan PT PSM dapat menjadi contoh dalam membangun sistem pencegahan karhutla yang melibatkan masyarakat secara aktif.
“Jangan kita jadikan Desa Bebas Api hanya sebagai nama sebuah program, tetapi mari kita jadikan sebagai gerakan bersama untuk mewujudkan desa yang aman, lingkungan yang terjaga, masyarakat yang sehat dan Kabupaten OKI yang semakin baik,” katanya.
Apresiasi tersebut disampaikan di tengah upaya memperkuat kesiapsiagaan menghadapi risiko karhutla pada musim kemarau 2026. Fenomena El Nino dan kondisi kemarau berpotensi meningkatkan kondisi kering di sejumlah wilayah Indonesia, sehingga turut meningkatkan risiko kekeringan dan karhutla. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia mengalami puncak musim kemarau pada Juli–September, dengan Agustus menjadi salah satu periode puncak kemarau.
Merespons kondisi tersebut, PT Kelantan Sakti bersama PT Persada Sawit Makmur memperluas Program Desa Bebas Api dengan melibatkan 10 desa dan 1 kelurahan di Kabupaten OKI. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penandatanganan MoU Program DBA sebagai upaya memperkuat pencegahan karhutla berbasis masyarakat.
Program Desa Bebas Api telah berjalan sejak 2025 dengan melibatkan lima desa. Pada tahun pertama pelaksanaannya, PT PSM bermitra dengan Desa Cinta Jaya, sementara PT KS bermitra dengan Desa Teloko, Desa Kandis, Desa Tanjung Serang dan Desa Ulak Depati.
Pada 2026, cakupan program diperluas menjadi 10 desa dan 1 kelurahan. PT PSM melanjutkan kolaborasi dengan Desa Cinta Jaya sekaligus memperluas kemitraan dengan Kelurahan Kedaton, Desa Tanjung Menang, Desa Jungkal dan Desa Pulau Geronggang. Sementara PT KS memperluas program dengan tetap melibatkan Desa Teloko, Desa Kandis, Desa Tanjung Serang dan Desa Ulak Depati, serta menambah Desa Ulak Pianggu dan Desa Keman Baru sebagai mitra Program Desa Bebas Api.
Group Manager PT Persada Sawit Makmur, Makmur Ginting, mengatakan Program Desa Bebas Api merupakan bentuk kolaborasi perusahaan bersama pemerintah desa dan seluruh pemangku kepentingan untuk mengantisipasi dan mencegah terjadinya karhutla.
“Program Desa Bebas Api merupakan program yang mengkolaborasikan antara perusahaan, desa-desa dan seluruh stakeholder dalam mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan. Tahun lalu program ini kita terapkan di lima desa dan tahun ini kita kembangkan dengan melibatkan lebih banyak desa,” ujar Makmur.
Menurutnya, perluasan program tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi meningkatnya risiko karhutla selama musim kemarau.
“Kondisi kemarau tahun ini perlu kita sikapi dengan meningkatkan kewaspadaan dan upaya pencegahan. Apalagi risiko karhutla merupakan tantangan yang tidak bisa kita hadapi sendiri. Karena itu, kolaborasi antara perusahaan, pemerintah, desa dan masyarakat menjadi kunci untuk meminimalisir terjadinya karhutla, khususnya di wilayah OKI,” katanya.
Dalam pelaksanaannya, Program Desa Bebas Api melibatkan crew leader di setiap desa yang bertugas melakukan pemantauan kondisi wilayah sekaligus menyosialisasikan kepada masyarakat mengenai bahaya dan dampak karhutla.
Selain itu, perusahaan memberikan apresiasi kepada desa yang berhasil menjaga wilayahnya dari kejadian kebakaran. Desa yang mampu mencapai kondisi zero fire atau tidak terjadi kebakaran akan mendapatkan reward sebesar Rp50 juta dalam bentuk material yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pembangunan desa.
Supriyanto juga meminta agar komunikasi dan koordinasi antara pemerintah desa, perusahaan, BPBD, Manggala Agni, TNI, Polri dan seluruh pihak terkait terus diperkuat. Apabila ditemukan potensi maupun kejadian kebakaran, penanganan dan pelaporan harus dilakukan sedini mungkin agar api tidak berkembang menjadi lebih besar.
Ia mengajak masyarakat untuk menjaga lingkungan dan tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara dibakar serta segera melaporkan apabila menemukan titik api atau indikasi terjadinya karhutla.
“Kepada para camat, kepala desa dan lurah, saya minta agar kerja sama ini tidak berhenti pada kegiatan penandatanganan hari ini. Perjanjian yang kita tandatangani harus benar-benar diwujudkan dalam tindakan nyata di lapangan,” tegasnya.
Melalui perluasan Program Desa Bebas Api dari lima desa pada 2025 menjadi 10 desa dan satu kelurahan pada 2026, PT Kelantan Sakti dan PT Persada Sawit Makmur berharap kolaborasi multipihak ini dapat semakin memperkuat kesiapsiagaan dan pencegahan karhutla, terutama di tengah musim kemarau dan potensi dampak El Nino tahun ini.(DONI PRATAMA)












