Anak Penjual Gorengan Jadi Profesor, Pesan Prof. Mairizal: Jangan Jadikan Keterbatasan Alasan Berhenti Bermimpi!

Universitas Jambi (UNJA) kembali mengukuhkan salah satu akademisinya, Prof. Dr. Ir. Mairizal, M.Si., sebagai Guru Besar dalam bidang di bidang Mikrobiologi dan Enzimatik dalam Teknologi Pakan Unggas dan Non Ruminansia yang bernaung di Fakultas Peternakan (FAPET) UNJA. Pengukuhan dilaksanakan di Balairung Pinang Masak, Kampus UNJA Mendalo, pada Senin (25/05/2026).

 

Lahir dan besar di Sungai Penuh, Prof. Mairizal merupakan putra dari pasangan Samuddin Sutan Mangkudun (Alm.) dan Nurbaya (Almh.) yang bekerja sebagai petani dan penjual gorengan. Dalam kondisi ekonomi yang terbatas, kedua orang tuanya tetap menanamkan nilai kerja keras dan pentingnya pendidikan kepada anak-anak mereka.

 

Perjalanan akademiknya dimulai dari SD Negeri XIII Sungai Penuh, kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 2 Sungai Penuh dan SMA Negeri 2 Sungai Penuh. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, ia merantau ke Sumatera Barat untuk menempuh pendidikan Sarjana (S1) di Fakultas Peternakan Universitas Andalas pada tahun 1987 dan lulus pada tahun 1991.

 

Semangatnya dalam menuntut ilmu terus berlanjut dengan menempuh pendidikan Magister (S2) Ilmu Ternak di Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 1996–1998. Selanjutnya, ia berhasil menyelesaikan Program Doktor (S3) Ilmu Peternakan di Universitas Andalas pada tahun 2018 dengan penelitian yang berfokus pada optimalisasi potensi bakteri saluran cerna rayap untuk meningkatkan nilai guna Bungkil Inti Sawit pada ransum broiler.

 

Menurut Prof. Mairizal, perjalanan menuju jabatan Guru Besar bukanlah proses yang mudah. Berbagai tantangan harus dihadapi, mulai dari keterbatasan fasilitas riset, tuntutan publikasi internasional, hingga kewajiban menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi secara seimbang.

 

“Pada fase awal karier akademik, keterbatasan akses terhadap fasilitas riset yang canggih menuntut kreativitas tinggi. Namun, latar belakang saya sebagai anak petani mengajarkan saya untuk tidak mudah menyerah,” ujarnya.

 

Setiap kali menghadapi masa sulit, Prof. Mairizal mengaku selalu mengingat kembali perjuangan kedua orang tuanya. Ia teringat hamparan lahan tempat ayahnya bekerja sejak pagi hingga petang, serta aroma gorengan yang setiap hari dijual ibunya demi membiayai pendidikan anak-anak mereka.

Kenangan itulah yang menjadi sumber kekuatan terbesar dalam perjalanan hidupnya.

 

“Secara pribadi, gelar Guru Besar ini adalah sebuah sujud syukur dan pembuktian atas doa serta keringat orang tua saya. Berangkat dari keluarga sederhana, di mana ayah dan ibu saya berjuang keras sebagai petani dan penjual gorengan, gelar ini adalah restu nyata dari setiap rapalan doa mereka,” ungkapnya.

 

Di balik keberhasilan tersebut, terdapat sosok-sosok yang selalu mendampinginya. Ia menyebut sang istri, Indri Anastasia, S.S., M.A., M.Ed., sebagai teman diskusi sekaligus penyemangat dalam setiap fase kehidupan. Dukungan anak-anak dan keluarga besar juga menjadi energi yang menguatkannya selama menjalani proses panjang menuju jabatan akademik tertinggi. Selain dukungan keluarga, ia juga memperoleh bimbingan dan kepercayaan dari berbagai pihak di lingkungan Universitas Jambi yang turut membentuk perjalanan akademiknya.

 

Namun yang paling membekas dalam perjalanan hidupnya bukanlah saat menerima gelar ataupun jabatan. Baginya, kebahagiaan terbesar justru hadir ketika melihat mahasiswa bimbingannya berhasil menyelesaikan pendidikan.

 

“Ketika saya melihat mahasiswa yang berasal dari keluarga sederhana berhasil lulus dan mengubah nasib keluarganya, itu adalah kebahagiaan yang tidak bisa dinilai dengan materi,” ungkapnya.

 

Saat ini, selain aktif sebagai akademisi dan peneliti, Prof. Mairizal juga mengemban amanah sebagai Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kerjasama Fakultas Peternakan UNJA. Baginya, jabatan Guru Besar bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan tanggung jawab besar untuk terus berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

 

Di bidang keilmuan Mikrobiologi dan Enzimatis Teknologi Pakan Unggas serta Non-Ruminansia, ia berkomitmen mengembangkan riset yang berorientasi pada pemanfaatan potensi lokal guna mendukung kemandirian pakan nasional. Salah satu fokus penelitiannya adalah optimalisasi Bungkil Inti Sawit melalui pendekatan bioteknologi mikroba dan teknologi enzimatis.

 

Ke depan, Prof. Mairizal berharap dapat memperkuat hilirisasi hasil riset sehingga tidak hanya berhenti sebagai publikasi ilmiah, tetapi mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya peternak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *