selayangnews.id,Muaro Jambi- Soft skill, motivasi, dan kapasitas berkontribusi bagi masyarakat menjadi fokus penilaian utama dalam Interview Tahap 1 Beasiswa Karya Salemba Empat (KSE) Universitas Jambi (UNJA) Tahun 2026.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 15–17 Mei 2026, di Gedung ICC Komplek Hexagonal Lantai IV UNJA tersebut menempatkan aspek non-akademik sebagai pertimbangan utama dalam menyaring calon penerima beasiswa.
Sebanyak 317 calon penerima beasiswa (CABES) yang telah lolos seleksi administrasi mengikuti tahapan wawancara ini. Interview Tahap 1 merupakan proses penyaringan awal sebelum peserta mengikuti tahap final yang akan dilaksanakan langsung oleh Yayasan KSE.
Pelaksanaan kegiatan di UNJA dipandu oleh panitia yang terdiri atas penerima Beasiswa KSE aktif, dengan Ketua Pelaksana Benget Arlison Silitonga.
Kepala Biro Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama UNJA, Dr. Guspianto, S.KM., M.KM., mengatakan bahwa pendekatan seleksi yang menempatkan soft skill sebagai indikator utama sejalan dengan visi pengembangan mahasiswa di perguruan tinggi.
“Kesuksesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan atau kompetensi teknis, tetapi juga bagaimana dia berkolaborasi, berkomunikasi, serta memiliki kejujuran, etika, dan kepemimpinan. Jika KSE menjadikan pendekatan tersebut sebagai salah satu indikator utama, saya rasa itu sangat baik dan sesuai dengan tujuan perguruan tinggi,” ujarnya.
Menurutnya, penerima Beasiswa KSE diharapkan tidak hanya memanfaatkan bantuan tersebut sebagai dukungan finansial, tetapi juga aktif dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan dan organisasi. Pengalaman tersebut dinilai penting untuk membentuk lulusan yang mampu berkontribusi di tengah masyarakat sesuai bidang keahlian masing-masing.
Pendekatan holistik juga tercermin dalam mekanisme wawancara yang dirancang oleh Paguyuban KSE UNJA. Ketua Paguyuban KSE UNJA, Widia Anggun Putri, menjelaskan bahwa penilaian mencakup komitmen, pemahaman terhadap KSE dan paguyuban, kemampuan menyikapi permasalahan, hingga manajemen waktu.
“Interview ini dilakukan selama tiga hari dengan penilaian mengenai pemahaman peserta terhadap paguyuban dan KSE, cara mereka menyikapi suatu masalah, manajemen waktu, serta bagaimana mereka menempatkan KSE sebagai prioritas. KSE memberikan banyak peluang kepada penerima beasiswa, sehingga mereka juga diharapkan dapat memberikan kontribusi penuh,” jelasnya.
Widia mengakui bahwa salah satu tantangan dalam seleksi non-akademik adalah memastikan kejujuran peserta dan konsistensi mereka terhadap komitmen yang disampaikan selama proses wawancara. Meski demikian, ia optimistis proses seleksi akan menghasilkan kandidat yang memiliki semangat kontribusi tinggi bagi KSE maupun masyarakat.
Kunjungi : http://www.unja.ac.id













