UNJA Miliki 21 Mahasiswa Disabilitas, Dorong Budaya Kampus Inklusif Lewat Seminar Inspiring People

Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pembelajaran (LPMPP) Universitas Jambi (UNJA) menggelar seminar bertajuk “Inspiring People in Culture of Inclusive Education” sebagai bagian dari komitmen mewujudkan lingkungan pendidikan yang inklusif, ramah, aman, dan setara bagi seluruh sivitas akademika. Kegiatan ini berlangsung Senin (7/9/2026) di Auditorium Lantai 1 Gedung UNIFAC, UNJA Mendalo.

 

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor Bidang Akademik UNJA Prof. Dr. Hafrida, S.H., M.H. Seminar ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Muhammad Zulfikar Rakhmat, B.A., M.A., Ph.D., akademisi, peneliti, sekaligus pendiri Sekolabilitas; dan Dr. Asep Jahidin, S.Ag., M.Si., dosen Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang juga menjabat Koordinator Pusat Layanan Difabel (PLD) UIN Sunan Kalijaga.

 

Dalam sambutannya, Prof. Hafrida menyampaikan bahwa UNJA berkomitmen memberikan kesempatan yang setara kepada seluruh mahasiswa, termasuk mahasiswa penyandang disabilitas. Saat ini, UNJA telah memiliki jalur afirmasi khusus bagi calon mahasiswa penyandang disabilitas sebagai upaya membuka akses pendidikan tinggi yang lebih terbuka dan setara.

 

“Saat ini Universitas Jambi memiliki 21 orang mahasiswa penyandang disabilitas dan telah memiliki satuan tugas disabilitas,” ujarnya.

 

Menurut Prof. Hafrida, persoalan pendidikan inklusif tidak berhenti ketika mahasiswa penyandang disabilitas diterima di perguruan tinggi. Seluruh unsur di lingkungan kampus, mulai dari fakultas, program studi, hingga dosen, perlu memahami kebutuhan setiap mahasiswa agar dapat mengikuti proses pendidikan secara optimal.

 

“Kampus harus menjadi tempat dimana keberagaman bukan dipandang sebagai hambatan, melainkan sebagai kekuatan,” katanya.

 

Sementara itu, Kepala Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pembelajaran (LPMPP) UNJA Prof. Dr. Retno Kusniati, S.H., M.Hum., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu upaya membangun komitmen pendidikan tinggi yang inklusif di lingkungan UNJA.

 

“UNJA terus berupaya mewujudkan komitmen pendidikan tinggi yang inklusif. Langkah ini menjadi bagian dari upaya membangun kampus yang ramah dan memberikan kesempatan setara bagi seluruh sivitas akademika,” ujarnya.

 

Menurutnya, terwujudnya lingkungan pendidikan yang inklusif membutuhkan dukungan kelembagaan, kebijakan, program, serta keterlibatan seluruh sivitas akademika.

 

Seminar ini diharapkan menjadi langkah nyata UNJA dalam mendorong perubahan cara pandang di lingkungan kampus, sehingga inklusivitas tidak berhenti sebagai wacana, melainkan menjadi praktik berkelanjutan yang dirasakan seluruh sivitas akademika.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *