UNJA  

UNJA Bersinar di Abdidaya Ormawa 2026, Dua Tim Raih Penghargaan Video Terbaik Nasional

Universitas Jambi (UNJA) kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Dua tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) UNJA berhasil meraih penghargaan bergengsi dalam kategori karya video pada ajang Anugerah Abdidaya Ormawa 2026 yang diselenggarakan di Makassar.

Prestasi ini diraih oleh tim Ikatan Mahasiswa Pendidikan Matematika (IMATIKA) FKIP UNJA melalui program LENTERA TANTAN yang dinobatkan sebagai Terbaik I Kategori Tim Pelaksana dengan Video Paling Kreatif. Sementara itu, tim Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNJA melalui program Pudak Resilient Village meraih Terbaik II Kategori Tim Pelaksana dengan Video Paling Inovatif.

Ajang Abdidaya Ormawa 2026 sendiri merupakan kompetisi ketat yang mempertemukan 120 tim dari 60 perguruan tinggi di 19 provinsi. Capaian dua penghargaan video ini bukan sekadar trofi perlombaan, melainkan wujud nyata keberhasilan mahasiswa dalam merangkai kerja lapangan, memperkenalkan persoalan desa, serta mengangkat ikhtiar masyarakat ke hadapan publik luas.

Secara keseluruhan, kedua capaian video ini merupakan bagian dari empat penghargaan yang berhasil dibawa pulang oleh kontingen UNJA. Di balik penghargaan karya video, tersimpan dua kisah pemberdayaan yang berfokus pada penguatan literasi masyarakat di Desa Tantan serta mitigasi risiko banjir dan pengelolaan lingkungan di Desa Pudak, Kabupaten Muaro Jambi.

Melalui program LENTERA TANTAN, tim IMATIKA FKIP UNJA mengembangkan model Pojok Belajar Integratif untuk Akselerasi Literasi Multidimensi Menuju Desa Cerdas. Berlokasi di Desa Tantan, Kecamatan Sekernan, program ini mengintegrasikan pembelajaran literasi digital, numerasi, finansial, dan lingkungan dengan pelatihan keterampilan hidup sehari-hari.

Berdasarkan laporan akhir program, mahasiswa berhasil mendirikan empat Pojok Literasi Integratif di empat titik dusun serta menyusun kurikulum pembelajaran nonformal berbasis life skills. Pendampingan ini turut melahirkan berbagai produk kreatif bernilai ekonomis yang memanfaatkan potensi lokal. Produk yang dikembangkan anatara lain briket dari pelepah sawit, piring anyaman lidi sawit, gantungan kunci dari limbah tutup botol, serta erbagai produk olahan pangan lokal

Demi memastikan keberlanjutan program setelah masa penugasan usai, tim membentuk kader lokal yang dinamai Pionir Tantan. Kader ini diharapkan menjadi penggerak utama kegiatan pembelajaran dan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.

Tim LENTERA TANTAN dipimpin oleh Nadila Safitri dengan dosen pendamping Feri Tiona Pasaribu, M.Pd., CIT. Anggota tim terdiri dari Rizikka Tazakka, Bela Triska Putri, Saskia Febriana, Islami Ardianti, Yuliyana, Dwinori Nafisa Wirdama, Dhio Alfandi, Rd. Fauzan Al Akhyar, Ahmadyna Pri Putri, Tria Azizah, Bagas Praharesa, Farida Hanum, Mukhlisin, dan Diky Bintang Pamungkas.

Dosen pendamping Feri Tiona Pasaribu mengatakan bahwa penghargaan tersebut tidak semata-mata mencerminkan keberhasilan mahasiswa dalam menghasilkan karya video, tetapi juga menggambarkan proses pengabdian yang melibatkan kesungguhan dan kolaborasi dengan masyarakat.

“Saya ingin capaian ini dilihat sebagai hasil kesungguhan mahasiswa dan masyarakat, bukan semata keberhasilan membuat video. Di belakang setiap dokumentasi ada proses mendengar kebutuhan warga, menyusun kegiatan, memperbaiki kekurangan, dan menjaga kepercayaan satu sama lain. Jika kebersamaan itu benar-benar tumbuh menjadi rasa kekeluargaan, itulah pelajaran paling berharga yang dibawa mahasiswa dari Tantan,” ujarnya.

Ketua tim LENTERA TANTAN, Nadila Safitri, mengungkapkan rasa haru dan bangganya atas perjalanan bersama masyarakat Desa Tantan. Menurutnya, proses pengabdian memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa, terutama dalam membangun hubungan dan belajar bersama warga.

“Rasanya haru dan bangga membayangkan perjalanan kami bersama warga Desa Tantan. Kami datang membawa rencana belajar bersama, tetapi justru memperoleh begitu banyak pelajaran dari semangat dan keterbukaan masyarakat. Menjelang pengumuman, tentu ada rasa harap-harap cemas. Kami berharap kerja keras seluruh tim, kader Pionir Tantan, dan mitra desa mendapat apresiasi. Bagi kami, penghargaan ini akan terasa lebih bermakna apabila empat pojok literasi terus hidup dan bermanfaat bagi warga,” kata Nadila.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *