Selayangnews.id || MENDALO || – Universitas Jambi (UNJA) kian serius menata arah transformasi digital. Rabu (11/02/2026), kampus hijau ini menggandeng Google Indonesia dalam forum pengenalan teknologi yang berlangsung di Ruang Rapat Rektorat Lantai 7 UNJA Mendalo. Agenda ini bukan sekadar sosialisasi, melainkan langkah awal membangun ekosistem pembelajaran berbasis teknologi global.
Fokus pembahasan mencakup pemanfaatan Google Workspace for Education, program Google Career Certificates, hingga integrasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam proses pembelajaran dan tata kelola institusi.
Pertemuan strategis tersebut dihadiri langsung oleh Rektor UNJA, Prof. Helmi, bersama jajaran pimpinan universitas, mulai dari Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Umum Prof. Dr. Ir. Depison, M.P., para dekan, direktur pascasarjana, hingga kepala unit penunjang akademik. Dari pihak Google Indonesia, Azis hadir sebagai perwakilan perusahaan teknologi raksasa tersebut.
Dalam sambutannya, Rektor Helmi menegaskan bahwa AI harus dipahami sebagai alat bantu intelektual, bukan pengganti nalar manusia. Ia menggambarkan AI sebagai “otak besar” yang menyimpan dan mengolah limpahan data serta pengetahuan akademik. Namun, ia mengingatkan bahwa teknologi tetap memiliki batas.
“Saya sendiri menggunakan AI. Bahkan saya memakainya untuk menguji atau membantah jawaban dari Gemini. Tetapi pada akhirnya, AI tetap sebatas menyajikan pendapat berbasis data. Di titik itu kita harus sadar, kecakapan manusialah yang menentukan arah dan kualitas pemanfaatannya,” ujar Helmi.
Menurutnya, tantangan utama bukan lagi pada akses teknologi, melainkan pada kemampuan sivitas akademika dalam mengelolanya secara cerdas, kritis, dan bertanggung jawab.
Sementara itu, tim Google Indonesia memaparkan berbagai peluang kolaborasi, mulai dari peningkatan kompetensi digital dosen dan tenaga kependidikan hingga pemanfaatan platform digital untuk efisiensi manajemen kampus. Diskusi berlangsung dinamis, dengan beragam gagasan implementatif terkait integrasi AI dalam kurikulum dan sistem administrasi akademik.
Melalui kolaborasi ini, UNJA menargetkan percepatan inovasi pembelajaran berbasis digital sekaligus memperkuat daya saing lulusan di era disrupsi teknologi. Program lanjutan seperti workshop dan pelatihan intensif bagi civitas akademika telah disiapkan sebagai tindak lanjut konkret.
Langkah ini menandai komitmen UNJA untuk tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi aktor aktif dalam membangun budaya akademik yang adaptif, progresif, dan relevan dengan tantangan pendidikan masa depan.(Eros)












